RSS

Mengejar Tuhan

29 Mar

Cerita ini berasal dari catatan temanku atau bisa di sebut kakak dalam persaudaraan islam ‘ Ahmad Hanif Al-Farrasy

Adzan shubuh berkumandang, memecah keheningan dishubuh hari. Suara sang Muadzin begitu merdu terdengar hingga mampu membangunkan jiwa-jiwa yang lelap. Faruq yang dari tadi masih terjaga setelah melaksanakan qiyamul lail bergegas bangkit dari pembaringannya. ia berjlan menyusuri lorong rumahnya menuju keran air yang terletak dihalaman depan rumahnya. Segera ia mengambil air wudhu untuk menyucikan diri dan kemudian melangkah menuju mesjid yang berjarak tidak jauh dari rumahnya. Dengan langkah kecil ia menyusuri jalan setapak diantar rumah-rumah warga yang masih terlihat sunyi tak berkatifitas. Mungkin penghuninya masih tertidur lelap diatas hangatnya kasur yang empuk. Sesekali Faruq melompati genangan-genangan air bekas hujan semalam. Ya memang belakangan ini, kota Makassar sering diguyur hujan deras. Hal ini jugalah yang membuat sebagian jamaah mesjid didekat rumah Faruq menjadi agak malas melaksanakan sholat shubuh berjamaah dimesjid. Udara di Makassar saat shubuh memang sangat dingin, apalagi jika semalamnya sempat hujan lebat.

Berbeda dengan jamaah lainnyayang mudah terkalahkan oleh udara dingin, Faruq tetap selalu terlihat bersemangat melaksanakan sholat shubuh berjamaah dimesjid. Baginya sholat shubuh berjamaah merupakan sebuah keindahan tersendiri yang tak ternilai dan hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang mampu melawan kemalasan dalam diri dan menjawab seruan adzan shubuh.

Sesampainya di Mesjid, faruq langsung menuju shaf terdepan dan langsung melaksanakan sholat sunnah dua rakaat. Terlihat jamaah yang hadir masih sedikit. Shaf-shafnya masih kosong dan hanya diisi oleh beberapa jamaah yang terlihat sedang nikmat berzikir. Dari cara berpakaian mereka yang menggunakan jubah putih-putih dan kopiah putih, mungkin mereka adalah pengurus mesjid yang lebih dulu tiba.

Seusai sholat shubuh, Faruq tidak langsung kembali kerumah. Ia masih tinggal sejenak duduk dipelataran mesjid yang bersih sambil memandangi langit yang mulai berubah warna menjadi terang dan mentari mulai menampakkan sinarnya yang hangatdan indah. Belakangan ini Faruq memang menampakkan perubahan total. Tidak seperti dlu yang masih selengean dan ugal-ugalan, sekarang Faruq lebih banyak menghabiskan waktunya untuk duduk tafakur dan muhasabah diri. Perubahan ini terjadi semenjak dirinya mengenal sosok seorang gadis soleha yang sampai detik ini wajahnya pun belum pernah ia lihat. Gadis tersebut bernama Siti Khoiratunnisa. Ia adalah sosok gadis yang pernah bersekolah di salah satu sekolah tinggi berbasiskan Islam dan Bahasa Arab yang berada di Makassar. Sederhan, cerdas, sopan dan lembut tutur katanya, serta wajahnya terhijab dari dunia, itulah yang masih melekat dalam ingatan Faruq tentang gambaran sang gadis. Selebihnya, Faruq tidak mengetahui karena memang sang gadis mengenakan “Nikob”.

“Pak, apa kami sudah bisa pulang? sekarang sudah jam 12.30 Pak..”, suara seorang murid membuyarkan konsentrasi Faruq yang dari tadi sedang asyik membaca diktat sekolah kejuruan. “Oh,iya…kumpulkan tugasnya sekarang dan kalian boleh kembali kerumah” balas Faruq mencoba cepat tanggap terhadap murid-muridnya yang sedari tadi mengerjakan tugas yang diberikan oleh Faruq. Ini adalah hari pertama Faruq mengajar di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan yang terdapat di Makassar setelah sebelumnya ia sempat menganggur selama beberapa bulan. Dulu Faruq pernah bekerja pada salahsatu perusahaan yang bergerak dalam pembiayaan, namun selama bekerja ditempat itu hatinya selalu meronta dikarenakan sesuatu hal yang ia ketahui yaitu “Riba”. Ya benar, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa tempat dulu ia bekerja adalah sarang dari riba, dan bukankah dosa dari riba itu akan dirasakan sampai tujuh turunan? hal inilah yang tidak diinginkan oleh Faruq.

“Kriiiinnnnggggg…..” terdengar suara lonceng pertanda bahwa jam pelajaran memang sudah usai. Faruq pun berdiri menghampiri para muridnya seraya tangan kanan menjinjing tas ranselnya dan tangan kiri memegang lembaran-lembaran jawaban para murid. “Hari ini cukup sekian pertemuan kita, lusa kita ketemu lagi di jam yang sama dan saya akan memberi kesimpulan atas jawaban dari tugas yang saya berikan kepada kalian hari ini. Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh..” Faruq mengakhiri kegiatan belajar mengajar para siswa dan terdengar jawaban salam secara serempak oleh para siswa, “Walaikum salam warahmatullah wabarakatuh…”, lalu merekapun berhamburan keluar ruangan kelas bagai narapidana yang sudah lama menantikan udara bebas.

****

Ia berjalan menyisiri sepanjang jalan Sultan Alaudin, langkahnya tertatih karena lelah mengajar seharian, memberikan ilmu praktis kepada siswa-siswa barunya yang merupakan calon enginer masadepan. Cikal bakal generasi penentu masadepan bangsa. Debu jalan terasa menerpa wajahnya, terik mentari membakar kulitnya yang memang sudah kelam. Ia terus melangkahkan kaki ditengah riuk pikuk kendaraan yag melintasi jalan penghubung kota Makassar dengan Kabupaten Gowa ini. Beberapa Mahasiswi juga terlihat melintas dijalan ini dengan berjalan kaki. Dijalan ini memang terdapat dua kampus besar yang berdekatan. Kedua kampus tersebut adalah UIN Alaudin dan Unismuh, dua buah kampus yang berbasiskan Islam. Tak ayal suasana sepanjang jalan ini begitu kental dengan nuansa akademik dan Islam yang begitu kontras. Hamipir setiap Mahasiswi yang melintas menggunakan busana muslimah yang rapi, bahkan ada beberapa diantaranya yang nampak mengenakan nikob.

Tak terasa langkah kakinya telah menuntunnya jauh hingga sampai kesebuah kedai es kelapa muda dijalan protokol Pettarani. Ia pun berhenti sejenak dikedai tersebut sekedar untuk melepaskan lelah sembari memikirkan kemana tujuan berikutnya ia harus pergi. Segelas es kelapa muda pun dipesannya guna menghilangkan dahaga di tenggorokan.

Sambil asyik memperhatikan aktifitas masyarakat yang lalu-lalang, ia meneguk es kelapa muda yang telah terhidangkan tepat didepannya, sebuah kesegaran tiada tara menyelusup masuk menyentuh dinding tenggorokannya. Ibarat gabus busa yang cepat menyerap air, sensasi dingin begitu cepat menyebar keseluruh pori-pori daalm tubuhnya. Rasa manis gula merah dan segarnya air kelapa muda begitu cepat menghilangkan dahaga ditenggorokannya. Nikmat, itu yang ia fikirkan dan rasakan. Ia pun teringat akan salah satu Firman Allah dalam surah Ar-Rahman ” Fabi ayyi alaa ‘irabbikuma tukadziban. (maka Nikmat Tuhan kamu manakah yang engkau dustakan?)”. Inilah nikmat Allah dan merupakan hanya sebagian dari sekian banyak nikmat yang masih sering didustakan oleh manusia, gumannya dalam hati. Memang benar, manusia terkadang lupa akan nikmat yang diberikan oleh Allah ketika ia sedang merasa bahagia atau lepas dari suatu kondisi yang memberatkan. Sama ketika seseorang meneguk segelas air dingin untuk melepas dahaganya, banyak orang lupa bahwa dahaganya hilang karena nikmat yang Allah berikan. Seandainya Allah tidak berkehendak memberikan nikmatNya, maka sudah tentu berapapun air yang diminumnya tidak akan mampu menghilangkan dahaga tersebut. “Maha Agung Allah yang mempunyai kebesaran dan karunia (Ar-Rahman:78)”.

Sejenak kemudian Faruq kembali melanjutkan langkahnya setelah beberapa menit beristirahat di kedai tadi. Kali ini ia teringat akan salah satu sahabatnya dan ia berniat berkunjung kerumahnya sekedar silaturahmi. Bukankah orang yang memanjangkan silaturahmi maka dibukakan pintu rezkinya oleh Allah?, fikirnya. ia pun kemudian menyebrang jalan guna mengambil pete-pete jurusan sentral. Debu jalan kembali menrpa wajahnya yang sudah tampak kusut dan berantakan. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya sebuah pete-pete jurusan sentral melintas. Didepan angkutan umum tersebut tertulis IKIP yang menandakan rute perjalanannya dari kampus IKIP (Universitas Negeri Makassar) ke pasar sentral. Ia pun menatap kearah supir pete-pete tersebut sebagai tanda bahwa ia akan naik angkutan umum tersebut. Sudah menjadi hal yang umum di Makassar, jika seseorang hendak menahan angkuatan umum tidak perlu dengan melambaikan tangan, cukup menatap kearah supir angkotnya maka si supir akan segera berhenti tepat dihadapan calon penumpangnya.

***

Muhaikal adalah sososk sahabat yang dikenal faruq sebagai individu yang taat beragama, penuh wibawa dan sangat mencerminkan sifat tawadhu. Haikal, begitu sapaan akrabnya, dikenalnya saat Faruq melakukan transfer ke salahsatu sekolah tinggi manajemen yang terdapat di Makassar. Dalam perjalanan spiritualnya, Haikal-lah yang banyak mengajarkan ilmu-ilmu agama, selain itu Haikal dan Faruq juga sering berdiskusi tentang masalah-masalah agama yang banyak terjadi di masyarakat. Bisa dikatakan Haikal merupakan sosok murobbih yang secara tidak langsung memotivasi dan membantu Faruq dalam melakukan pembenahan diri.

Sang metro mini terus menggelinding melaju ke arah sentral. Sesekali sang sopir menghentikan laju kendaraannya tepat didepan lorong-lorong kecil, menunggu bakal penumpang yang akan naik ke angkotnya. Faruq yang ikut dengan rute angkot ini memilih duduk dikursi paling depan bersampingan dengan Pak sopir. Posisi ini dipilihnya karena jika duduk dibeakang, kecenderungan untuk bersentuhan dengan akhwat yang bukan muhrim sangatlah besar. Ia selalu teringat pesan Siti Khoiratunnisa, sang pujaan hati. Katanya, “Kak, menyentuh akhwat yang bukan muhrim itu tidak baik dan tidak boleh. Baik sengaja atau tidak disengaja. Sebisa mungkin dihindari ya Kak. Ingat kata Rasulullah, sungguh lebih baik bagi seorang laki-laki ditusuk kepalanya dengan jarum besi daripada menyentuh wanita yang bukan muhrimnya..”. Kalimat ini selalu terngiang jika Faruq hendak menahan pete-pete.

Metro mini terus melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali terdengar suara klakson dari dalam angkot yang bunyinya mirip sirine ambulan namun dengan anada yang sedikit kecil dan variatif.Faruq yang dari tadi ikut memperhatikan liukan lincah sang angkot ditengah-tengah kemacetan kota Makassar, tiba-tiba tersentak ketika mendengar suara adzan. Iapun segera melihat jam yang ada di HP nya, “ternyata sudah pukul tiga lewat, sudah masuk waktu ashar”, gumannya dalam hati. Ia pun segera mengangkat kepala dan mencoba mencari mesjid terdekat, ternyata pete-pete yang ditumpanginya baru saja melewati Mesjid Raya Makassar. Salah satu mesjid terbesar di kota Makassar dengan gaya arsitektur Timur-Tengah nya. Segera Faruq menghentikan laju pete-pete Pak sopir dan membayar ongkos kemudian bergegas menuju Mesjid Raya.

Menginjakkan kaki dipelataran Mesjid Raya, suasana berbeda langsung menyerusup masuk kedalam tubuh Faruq. Ibarat berada di Kairo, arsitektur Mesjid Raya ini mampu memberi corak tersendiri bagi yang melihatya. Di pintu masuk pelataran, pengunjung disambut sebuah pohon kurma yang tertanam indah dikelilingi pasangan batu pondasi yang mirip arsitektur piramid, sungguh indah. “Assyadu Allah.. Ilaa… Ha.. Ilallah….”, seruan adzan terdengar memanggil setiap hamba untuk bergegas ke mesjid. Faruq yang mendengar keindahan adzan tersebut, tiba-tiba bergetar hatinya dan segera mempercepat langkahnya menuju tempat berwudhu. Dalam langkahnya ia teringat Firman Allah dalam surah Al-Anfaal:2 ” sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya)dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal..”. Iapun berdoa mudah-mudahan ia tergolong dalam golongan yang dimaksudkan oleh surah tersebut.

*****

Senja di kota Makassar, pantai Losari terlihat begitu indah dipenuhi oleh aktifitas muda-mudi yang menikmati suasana senja. Mtahari yang mulai tenggelam di ufuk barat menampakkan cahaya jingga yang terpantul diatas birunya ombak. Sebagian cahaya jingga tersebut terpendar diantara awan-awan putih yng terlihat mulai berubah kemerahan. Perlahan langit berganti warna menjadi gelap seiring dengan semakin hilangnya wajah sang mentari yang bersembunyi dibalik tirai samudra. Jauh dibibir pantai terlihat sosok pemuda berambut ikal sedang duduk di atas smbungan pelampung pelastik yang membentuk sebuah dermaga. Tubuhnya bergoyang mengikuti irama ombak yang menghantam dermaga apung tersebut. Semilir angin menerpa rambut ikalnya seolah-olah menari diantara sela-sela rambutnya.

Mata sang pemuda terlihat tajam menatap kearah sang mentari seakan tidak ingin kehilangan momen yang begitu indah. Ia adalah Muhaikal, tidak seperti biasanya yang selalu menghabiskan waktu dirumah dan bertafakkur didalam kamarnya, kali ini Muhaikal memilih keluar rumah dan meninggalkan gua-nya (baca: kamar). Sudah semenjak bakda ashar ia berda ditepi pantai, duduk menatap kearah langit berusaha mencari ketenangan dan jawaban dri permasalahan yang ia hadapi. Dulu Muhaikal adalah sosok yang begitu acuh terhadap lingkungan sekitarnya dan bahkan dengan dirinya, ia hampir tidak peduli akan apa yang terjadi disekelilingnya. Sikap egonya yang begitu mengakar membuat dirinya lupa akan orang-orang yang berada disekitarnya. Namun sekarang ia berbeda, ia lebih banyak bertafakkur dengan alam dan sekelilingnya serta mengahabiskan waktunya untuk berdzikir dengan Asma Allah berharp suatu saat niatnya bisa tercapai. Semasa kuliah Muhaikal sempat mengenal seorang gaids soleha yang telah menambat hatinya. Hingga bergelar sarjana, sang gadis masih tetap menempati sebuah bilik dalam relung hatinya, tentu saja setelah bilik pertama dan kedua didalam hatinya terlebih dahulu diisi oleh kecintaanya kepada Allah dan RasulNya.

Nurul Fajria, adalah sosok gadis pujaan Muhaikal, Mahasiswi salah satu perguruan tinggi berbasis Islam yang berada di Kota Makassar. Baginya Nurul Fajria yang akrab dipanggil Nurul, adalah seorang gadis lugu dan polos namun berpendirian tegas serta mandiri. Dimatanya, Nurul seperti sinar mentari yang menerangi relung hatinya, menyingkap tabir ke egoisan di dalam dirinya dan menumbuhkan benih kasih sayang yang begitu kuat hingga ia bisa nerasakan keberadaan orang lain disekitarnya. Karakter unik yang dimiliki oleh Nurul merupakan point penting yang tidak terdapat pada gadis lain biasanya.

Dua bulan semenjak komunikasi terakhir dirinya dengan Nurul, Muhaikal nampak kehilangan arah. Niatnya untuk meminang sang gadis setelah wisuda terpaksa di urungkanya. Ia sama sekali tidak tahu dimana Nurul sekarang berada. Kalaupun ia tahu dimana Nurul, ia segan untuk menyatakan niatnya kembali, mengingat terakhir komunikasi dirinya dengan Nurul terputus sampai sekarang karen antar mereka terjadi selisih pendapat. Keduanya memutuskan untuk mengakhiri komunikasi dikarenakan alasan Agama. Saat itu Nurul menyatakan bahwa dirinya tidak ingin berkomunikasi denagn Ikhwan yang bukan muhrim dikarenakan ia paham larangannya dalam agama. Muhaikal yang juga sedikit paham masalah ini, memimlih ikut dengan keputusan Nurul, dengan pertimbangan bahwa ini untuk kebaikan mereka berdua.

Kini posisi dilema dihadapi oleh Muhaikal, ia bingung bagaimana ia mesti memulai kembali komunikasi dengan Nurul. Ia tidak tahu harus bagaimana agar bisa menunaikan niatnya untuk melamar Nurul, sebuah ikrar yang pernah ia ucapkan kepada Allah yang Maha Mengetahui. Kini dirinya hanya bisa pasrah kepada ketentuan Al-Qadir, dan berharap Allah memberi jalan kepadanya minimal untuk menunaikan janjinya kepada Sang Khalik yaitu melamar Nurul setelah ia selesai kuliah.

to be continue…..

 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: