RSS

Al-Qur’an Menjawab Tantangan Ahmadiyah. #1

29 Mar

Bismillahirrahmanirrahiiim…..

Assalamu ‘alaykum warahmatullah wabarakatuh..

Saudara (i) ku sesama Muslim yang insya Allah dirahmati Allah swt. Melihat tema diatas, pasti sudah muncul gambaran yang jelas tentang apa yang pribadi ini coba jelaskan. Tanpa maksud menyatakan diri ini yang benar karena sesungguhnya kebenaran mutlak hanya milik Allah, pribadi ini coba menawarkan sebuah wacana baru kepada masyarakat muslim, sebuah solusi yang patut dicoba namun sering terlupakan dalam menanggapi problem yang ada.

Sebuah dilema besar yang dihadapi ummat Muslim khusunya di Indonesia saat ini yaitu “Fitnah Agama”. Kita ketahui bersama hampir seluruh elemn-elemen media saat ini menayangkan atau menghadirkan kasus Islam VS ahmadiyah. Dibeberapa stasiun TV bahkan terlihat menghadirkan masing-masing tokoh dari kedua belah pihak (Islam dan ahmadiyah) untuk saling berdebat atau mengungkapkan pendapat. Sikap saling menganggap diri paling benar pun muncul dari kedua belah pihak. Bahkan saling lontar tuduhan sesat-pun diucapkan dan diperparah jatuhnya korban jiwa. Masyarakat awam yang tidak tahu pasti duduk perkaranya akhirnya menjadi tumbal dilema yang berlarut-larut. Khalayak bingung, harus mengikuti siapa? dan ujung-ujungnya, Dinul Islam-pun diambang pintu ke-Marginal-an.

Melihat kondisi yang ada, beberapa ulama kenamaan pun bergerak, FPI dan HTI tidak tinggal diam. MUI pun demikian. Berbagai solusi-pun dilontarkan untuk meredam dilema yang ada dan salah satu yang paling sering dilihat adalah dialog antara Islam dan ahmadiyah. Namun sayang, hal tersebut tidak membuahkan hasil. Malah kadang memperparah kondisi Ummat Muslim karena adanya dialog tersebut, ahmadiyah bisa dengan terang-terangan menghina Al-Qur’an dan Rasulullah bahkan melecehkannya dengan sehina-dina… (Naudzubillah).

Saudaraku, perang antar Islam dan Ahmadiyah adalah sebuah cobaan bagi Ummat Muslim. Pribadi ini yakin bahwa ada hikmah yang mau diajarkan Allah kepada kita melalui problema ummat ini. Namun semua itu tergantung dari bagaimana kita menyikapi hal tersebut. Berdialog dengan mereka (baca:ahmadiyah) memang adalah sebuah solusi, tapi hanya satu dari sekian banyak solusi yang ada. Dan menurut pribadi ini, solusi tersebut kurang tepat. Membuka dialog dengan ahmadiyah, berarti kita membuka diri untuk dicela dan dicacimaki.Dihina dan dilecehkan. dan yang dilecehkan bukan pribadi-pribadi kita. Tapi Agama kita, Al-Qur’an kita dan Rasul kita.

Memang benar maksud kita berdialog adalah untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama yang benar, Al-Qur’an adalah kitabnya dan Muhammad adalah Rasul utusan terakhir. Tapi perlu kita pahami, ahmadiyah tidak menempatkan Al-Qur’an sebagaimana mestinya, begitu juga dengan Rasulullah. Ahmadiyah tidak peduli dengan hal ke-absahan Al-Qur’an dan ke-Rasul-an Muhammad saw. Dengan demikian mereka juga tidak takut mencela dan menghina Al-Qur’an serta Rasulullah. Bahkan mereka merasa bangga jika bisa melecehkannya ( baca: Al-Qur’an dan Rasulullah). Kalau sudah demikian jika dialog tetap diteruskan, yang akan semakin tersakiti adalah kita Ummat Muslim yang menjunjung tinggi Al-Qur’an dan Rasulullah Muhammad saw. Karena pedoman dan tuntunan kita dihina didepan khalayak ramai (baca: media masa).

Saudaraku sesama Muslim, pribadi ii mencoba menawarkan solusi yang insyaAllah bisa menjadi jalan keluar bagi ummat dan solusi bagi khalayak (masyarakat awam) untuk melihat kembali kebenaran yang ada. Melihat fakta yang ada, selama ini ulama kita berdialog dengan ahmadiyah hanya berlandaskan nash-nash berupa hadits. Pertanyaannya adalah, kenapa kita ummat muslim tidak mencoba untuk mengkaji Al-Qur’an bersama mereka (baca:ahmadiyah) dan membandingkannya dengan kitab yang dibawa oleh nabi mereka? Bukankah Al-Qur’an dijaga isinya oleh Allah sendiri dan tidak dapat ditiru atau dibuat hal yang serupa dengannya? Sebagaimana Firman Allah dalam surah Al-Israa’ ayat 88 ” Katakanlah sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” ini adalah pernyataan Allah bahwa manusia tidak dapat membuat sesuatu yang serupa dengan Al-Qur’an sekalipun dibantu oleh jin. Dan jika memang kitab ahmadiyah adalah sebuah rekayasa, maka pastilah didalamnya terdapat kerancuan yang jelas. Sebagaimana Allah menyatakan dalam firmanNya, ” maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak didalamnya.” ( QS. An-Nisaa: 82). Hal ini menguatkan bahwa, Hanya Al-Qur’an -lah yang didalamnya tidak terdapat pertentangan atau kerancuan ayat karena isinya dijaga oleh Allah yang Maha Memelihara.

Saudaraku sesama Muslim, sekali lagi, pribadi ini tidak menyatakan bahwa ini adalah solusi yang paling tepat. Hanya saja, mengkaji Al-Qur’an bersama mereka dan membandingkan dengan kitab mereka (ahmadiyah) adalah solusi yang patut dicoba. Hal ini semata-mata karena Allah telah menjamin sendiri ke-absahan Al-Qur’an dalam firmanNya sebagaimana yang terkutip diatas. Kalaupun setelah hal ini dicoba namun mereka(ahmadiyah) tidak berubah dari pendirian mereka, maka sudah sepatutnyalah kita umat muslim menanggapi dengan sabar dan menyerahkan kuasa Allah untuk menyelesaikannya. Karena kita hanya sebatas memberi peringatan, dan Allah-lah yang menentukan siapa dikehendakiNya mendapat petunjuk, dan siapa yang tetap dalam kesesatan. Sebagaiman firman Allah dalam surah Yunus ayat 108-109: ” katakanlah, hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu. Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabaralah hingga Allah memebrikan keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.”

Akhirul kalam, jika ada kesalahan kata, sungguh itu asalnya dari dai pribadi yang lemah ini. Semoga kita senantiasa dilimpahkan kesabaran dan ke-Istiqomah-an dalam meniti langkah ke sirathal mustaqim….Amin..

 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: