RSS

Revisi Adzan

29 Mar

Subuh dini hari ku terbangun setelah semalam melaksanakan qiyamullail hingga mata berat dan lelah. Subuh ini ku mencoba mendengarkan suara adzan dengan seksama. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kali ini entah mengapa diri ini termotivasi untuk mengamati adzan dengan seksama dan penuh penghayatan. Ternyata sekali lagi Allah ingin menunjukkan sesuatu pada kalimat-kalimat adzan yang selama ini kita dengarkan. Secara tidak sadar ketika ku mencoba mengikuti seruan adzan yang kalimat-kalimatnya begitu indah, tiba-tiba saya merasa ada yang kurang dalam seruan tersebut. bukan karena ada lafadz yang terbalik atau terlupakan, tapi karena saya merasa penghayatan sang muadzin tersebut sangat kurang.. entah apakah ia melaksanakan seruan adzan dengan kondisi masih terkantuk atau memang dia tidak memahami makna adzan. suara seruan adzan yang kudengar begitu lirih. ucapan-ucapannya seolah-olah menyerukan dengan tidak sepenuh hati. “hayya ala shola..(marilah kita sholat)” terdengar sang muadzin menyeru untuk melaksanakan sholat dengan nada sedikit memelas tanpa ada penekanan-penekanan intonasi yang membuat seruan itu semestinya lebih hidup. taklama kemudian sang muadzin kembali menyerukan “assholatu khairum minan naum..(sholat lebih baik daripada tidur)”  tapi tetap dengan nada yang sama.. datar tanpa ada penekanan-penekanan intonasi yang membuat seruan tersebut menjadi tegas.

sekilas terlintas dibenakku untuk kembali tidur ketika mendengarkan seruan tersebut. tapi segera cepat-cepat kubasuh wajah ini, dan kuambil wudhu kemudian bergegas ke mesjid dekat rumah yang dari tadi kudengar belum melakukan seruan adzan. setibanya disana segera kubuka pintu mesjid dan langsung menyalakan beberapa lampu yang ada diruangan mesjid. Tidak lupa juga kunyalakan amplifier pengeras suara mesjid tersebut dengan setelan volume mickrofon yang agak kecil. sengaja ku ataur demikian agar ketika ku kumandangkan adzan, aku dapat berteriak dengan nada yang tinggi sehingga adzan ku nanti terdengar lebih hidup dan memotivasi ummat muslim dekat mesjid untuk segera menunaikan sholat shubuh. ya, memang saya berniat memberi contoh kepada muadzin cara adzan yang menurut saya lebih baik. mungkin inilah maksud Allah membiarkan saya menghayati lantunan adzan sebelumnya dari mesjid yang agak jauh. ” ALLAHU AKBAR… ALLAAHU AKBAARRR..” Kumulai mengumandangkan adzan dengan nada keras dan intonasi yang tepat sambil menhayati arti dari lafadz yang baru saja ku ucapkan (ALLAH MAHA BESAR… ALLAH MAHA BESAR…) sambil hati kecil ini menjawab dengan meng-iya-kan bahwa sungguh ALLAH memang MAHA BESAR.. kulanjutkan menyeru adzan dengan tetap memperhatikan lafadz dan penekanan-penekanan kalimat yang dianggap perlu hingga membuat seruan adzan ini terasa hidup hingga sampai pada lafadz yang menyeru bahwa sholat lebih baik dari pada tidur, ku ucapkan dengan sangat meresapi dan tetap dengan nada keras sehingga seolah-olah tenggorokanku terasa parau ” ASSHOLATU KHAIRUM MINAN NAUM…” tidak terasa ketika kuucapkan kalimat tersebut dengan penuh penghayatan, hati ini berdesir kencang seolah-olah ada angin sejuk yang menyelusup masuk keadalam hati ini. bukan hanya itu, setiap lafadz adzan yang kuucapkan dengan sendirinya membuat dada ini bergetar, bulu-bulu tangan ini naik seolah-olah ikut menjawab panggilan adzan yang kuucapkan sendiri. rasa takjub dan kagum dengan seruan yang maha dahsyat ini membuatku semakin tunduk dengan kebesaran dan kekuasaan Allah.

Tidak terasa ketika selesai mengumandangkan adzan subuh, saya berpaling dan Subahanallah (Maha Suci Allah), jamaah telah memenuhi hampir 5 shaft untuk laki-laki dan untuk shaft peremuan hampir tidak ada lagi tempat kosong padahal hari-hari sebelumnya tidak pernah seperti ini.

Salah seorang jamaah yang tidak lain adalah seorang Imam Mesjid menghampiriku dengan senyum ramahnya yang dihiasi oleh janggut putih tipis yang begitu bersahaja, beliau menepuk dadaku dan berkata, mari sholat sunnah berjamaah 2 rakaat kemudian kita sholat shubuh.

Singkat cerita, setelah sholat shubuh,beberapa jamah datang kepadaku dan berkata, sungguh tadi itu adzan yang indah. seruannya begitu hidup dan menggetarkan hati, membuat mereka yang masih tertidur langsung terbangun dan termotivasi untuk sholat shubuh berjamaah seolah-olah yang barusan tadi seruan adzan di zaman Rasul masih hidup dan Bilal masih mengumandangkan adzan.

saudaraku,coba kita perhatikan seksama seruan-seruan adzan yang selama ini kita dengarkan.seruan adzan yang saat ini sering kita dengar lebih pantas jika dikatakan suara LIRIH dan bukan “seruan”. layaknya seruan semestinya kita menyeru(memangil dengan nada tinggi) setiap hamba-hamba Allah untuk menunaikan kewajiban kepada Allah. Jika perlu, seruan kita tersebut bisa membuat sesorang yang lagi berbuat maksiat menjadi tersadar dan taubat, seorang yang lagi sibuk dengan pekerjaan menjadi berhenti dan menyambut seruan kita atau kalau perlu seruan kita tersebut mampu membuat seorang kafir menjadi muslim,seorang murtad kembali menjadi alim dan yang berbeda agama menjadi muallaf.

Seorang Muadzin semestinya memperhatikan penghayatannya akan lafadz-lafadz adzan, bukan lebih mementingkan cangkok adzan seperti vokalis grub band “dangdut”, yang dibutuhkan adalah penghayatan dan ketegasan setiap kali lafadz tersebut di kumandangkan.

Akhirkata, semoga kisah tersebut diatas dapat memebri kita motivasi untuk memperbaiki tubuh islam yang memang sudah saatnya membutuhkan pembenahan-pembenahan dari berbagai sisi. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan taufiq serta hidayahNya kepada kita semua. Amin.. ya Robbal ‘alamin…

Kisah dari Al Mujahid

 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: